Pada saat… transportasi memadai pun belum kesampaian

Nggak kurang dari 10 menit mobil kita berhenti di pintu rel Stasiun Senen tadi pagi. Jumlah kereta yang lewat: 2 saja; satu baru masuk ke stasiun, satu lagi berangkat dari stasiun. Jumlah gerbong tiap rangkaian yang lewat juga tidak begitu banyak – nggak sampai lebih dari satu menit dibutuhkan untuk lewat. Boros ya? semestinya cukup 5 menit saja pintu rel ditutup, tapi kenyataannya 5 menit extra hilang. Mulailah, seperti biasa, aku dan Papa ngobrol tentang gimana hal kecil seperti ini sebenernya nggak perlu terjadi. Bahwa efisiensi itu sebenernya nggak sulit, hanya saja kemauan untuk melakukannya ndak ada.

Jadi mikir: ini refleksi gamblang perlakuan terhadap masyarakat umum. Habis, kalau dipikir, siapa sih pemakai utama kereta? Pastinya masyarakat menengah kebawah kan? masyarakat umum di Indonesia di dominasi masyarakat kelas menengah kebawah. Nggak salah dong, kalau ambil kesimpulan: Perlakuan terhadap angkutan umum mencerminkan perlakuan terhadap masyarakat umum. Karena, angkutan umum adalah fasilitas yang disediakan untuk mempermudah masyarakat umum mencapai lokasi tujuan mereka.

Jadi kepikiran juga soal transjakarta – angkutan umum yang paling dekat di hati, karena paling sering gue pake… hehehe. Ummm, gimana ya; jujurnya gue dah lumayan seneng sih sama transjak – karena rute pulang pergi kantor gue lumayan enak, ngelawan arus terus. Berangkat ke arah Kampung Melayu, pulang ke arah Senen, kebalikan arus rame. Belum lagi sejak status gue berubah jadi Ibu hamil, secara otomatis gue di-upgrade jadi VIP passanger, dimana ngantri itu nggak penting, karena perusahaan transjak nggak mau resiko ada tuntutan secara hukum dari ibu hamil yang merasa kegencet di jalur antrian umum. Tapi, kalau gue buka mata bener-bener… gimana kalau gue jalur PP nya kebalikan ini? gimana pas gue belum hamil dulu. Jadi ‘ngeh’, sebenernya transjak pun masih banyak banget kekurangannya. Sebut aja, janji kehadiran bus tiap lima menit di tiap halte yang hampir nggak pernah terpenuhi, kondisi halte yang tidak mencukupi jumlah calon penumpang (pernah liat halte central senen yang di tengah-tengah jalan pas lagi penuh nggak? yang sebaris doang tuh?), belum lagi kelakuan petugas transjak yang bervariasi antara berlebihan dalam mengatur penumpang sampai ke arah nggak perduli ngeliat para penyelak antrian beraksi.

Intinya, gue pun menikmati transjakarta karena gue beruntung, bukan karena transjak memberikan pelayanan yang super keren buat pelanggannya. Kalok salah satu faktor keberuntungan gue ilang, transjakarta juga nggak mungkin senyaman ini buat gue.

Jadi apapun bentuknya, gue rasa kebutuhan masyarakat umum itu masih belum ada yang tanggepin secara serius. Lha wong kebutuhan dasar seperti transportasi yang terjangkau dan memadai aja belum terpenuhi – sama perusahaan pemerintah maupun swasta (transjak swasta toh? no matter how or who started it).

Duh, kapan ya orang-orang nggak perlu mikir lagi masalah desek-desekan, rebutan antrian, was-was jadwal kedatangan angkutan yang nggak pasti… nggak perlu pusing mikir harga bensin yang melonjak tinggi, padahal jarak rumah ke tempat gawe jauh bgt, nggak perlu stress ngadepin macet…nggak perlu maksa berangkat pagi-pagiiii banget demi sekedar menghindar dari padatnya angkutan umum… nggak perlu bertaruh nyawa dengan cara naik motor dan bersaing secara ugal2an di jalan raya. Kapan ya masyarakat diperlakukan secara hormat dan disediakan fasilitas transportasi umum yang memadai. Nggak perlu mewah koq, sekedar memadai… Memadai untuk menjaga suasana hati pelanggannya mulai dari berangkat, hingga kembali lagi ke rumah – ke keluarganya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s