Aku pikir aku bakal jadi pengajar bagi anak-ku.
Ternyata sejak sebelum lahir-pun anak-ku sudah banyak mengajari aku.
Aku pikir aku bakal menjadi pembimbing bagi anak-ku,
Ternyata kehadiran anak-ku membimbing aku supaya mau lebih maju.
Aku sangka aku yang menopang keberadaan anak-ku.
Ternyata keberadaan anak-ku juga turut mendefinisikan aku lebih jauh lagi.
Aih, kecilnya aku – tanpa tahu apa-apa aku berprasangka, hanya karena aku sudah punya pengalaman 27 tahun lebih awal aku menduga… tapi aku tau, semua itu tidak berlaku.
Aku lebih terbuka menerima, segala perubahan yang ajaib ini. Bagaimana rasanya tiap inci pribadiku dipertajam, di taruh dibawah kaca pembesar untuk aku lihat sendiri.
Aku dihempaskan melihat kekuranganku sendiri, aku dilambungkan pada saat mengerti kelebihanku. Aku dituntut untuk menemukan keseimbangan diantara keduanya… karena dalam keseimbangan itulah aku bisa menggandeng anak-ku dalam keseharian kami.
