Pagi ini aku naik Busway lagi, Papa lagi ke Jogja, jadi tebengan gak ada deh
. Seneng juga koq naik Busway, perut ini dah ndut, jadi dah bilang: “Mas, Ibu Hamil nih… boleh disini ya?” sambil tunjuk jalur khusus orang turun… hehehehe.
Dalam perjalanan aku baru sadar… Parade pagi hari bener-bener refleksi tingkah laku manusia sekitar. Tadi, berhubung antian kosong, aku gak perlu minta lewat jalur khusus… Sudah paling depan ini, gitu pikir ku. Nenek-nenek di sebelahku juga berpikiran begitu sepertinya. Salahnya aku. Gak lama kemudian datang lah seorang perempuan, Masih muda sepertinya. Kontan dia maju ke depan ku dan si Nenek, lalu berdiri disitu, gak perduli kiri kanan. Wah… kaget juga liatnya. Untung sesudah itu nggak ada lagi yang begitu. Kubiarkan saja dia, toh tidak di ikuti yang lainnya.
Pada sebuah halte, naik seorang Ibu yang menggendong anak. dia terlihat lelah. Seorang anak perempuan langsung memberikan tempat duduknya untuk si Ibu. Sementara aku perhatikan, ada seorang anak lelaki yang sebaya anak perempuan tadi, santai saja melihat semua itu. Hmmmm… orang kadang berdalih: kan emansipasi… gak perlu dong sok-sok ksatria dan ngalah tempat duduk sama perempuan.
Weh… apa iya begitu yang dinamakan emansipasi? koq jadi seperti mengecilkan kepribadian lelaki ya?
Panggung berganti menjadi sebuah Kopaja, sambunganku setiap turun dari busway untuk sampai ke kantor. Beberapa menit setelah kopaja jalan, naiklah empat orang remaja, satu orang perempuan, tiga laki-laki. Pakaian ala anak punk, hitam-hitam, tato, hiasan gelang paku dan flanel kotak-kotak merah menyelingi. “Kami hadir untuk menghibur anda, anda belum sarapan, kami juga belum sarapan, seribu-dua ribu tidak akan membuat anda miskin dan tidak akan membuat kami kaya!!!” begitu teriak ‘pemimpin’ kelompok ini. Lalu mereka menyanyi sebuah lagu singkat… mengenai bagaimana mereka benci kalau cinta di pur setengah. Si perempuan cilik terdorong seorang penumpang yang baru naik, dengan keras dia berkomentar “ampun deh, Gede Banget tuh Pantat”. Lalu dikeluarkan sebuah kantong plastik untuk mengumpulkan uang dari para penumpang. Yang bener nih…
Parade pagi ini terasa lebih jujur di banding parade atraksi yang disiarkan semalam di setiap stasiun TV Indonesia – acara (niatnya) megah untuk memperingati hari kebangkitan nasional kemarin. Jujur juga bahwa walaupun berbagai bentuk negatif terpampang di hadapan ku tadi, ada juga sikap baik yang muncul sekali waktu. Seperti, ketika seorang Ibu naik ke busway membawa beberapa anaknya, dua orang pria baik hati langsung berdiri memberi tempat. Di sebelah ku juga seorang Ibu dengan sabar dan rinci menjelaskan rute ke arah Pasar Minggu kepada pasangan muda yang baru mencoba naik busway.
Inilah pagiku, refleksi harian dalam waktu 45 menit…
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.