Harinadiputri

Masukan dari Mei 2008

Parade Pagi Hari

Mei 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi ini aku naik Busway lagi, Papa lagi ke Jogja, jadi tebengan gak ada deh :) . Seneng juga koq naik Busway, perut ini dah ndut, jadi dah bilang: “Mas, Ibu Hamil nih… boleh disini ya?” sambil tunjuk jalur khusus orang turun… hehehehe.

Dalam perjalanan aku baru sadar… Parade pagi hari bener-bener refleksi tingkah laku manusia sekitar. Tadi, berhubung antian kosong, aku gak perlu minta lewat jalur khusus… Sudah paling depan ini, gitu pikir ku. Nenek-nenek di sebelahku juga berpikiran begitu sepertinya. Salahnya aku. Gak lama kemudian datang lah seorang perempuan, Masih muda sepertinya. Kontan dia maju ke depan ku dan si Nenek, lalu berdiri disitu, gak perduli kiri kanan. Wah… kaget juga liatnya. Untung sesudah itu nggak ada lagi yang begitu. Kubiarkan saja dia, toh tidak di ikuti yang lainnya.

Pada sebuah halte, naik seorang Ibu yang menggendong anak. dia terlihat lelah. Seorang anak perempuan langsung memberikan tempat duduknya untuk si Ibu. Sementara aku perhatikan, ada seorang anak lelaki yang sebaya anak perempuan tadi, santai saja melihat semua itu. Hmmmm… orang kadang berdalih: kan emansipasi… gak perlu dong sok-sok ksatria dan ngalah tempat duduk sama perempuan.

Weh… apa iya begitu yang dinamakan emansipasi? koq jadi seperti mengecilkan kepribadian lelaki ya?

Panggung berganti menjadi sebuah Kopaja, sambunganku setiap turun dari busway untuk sampai ke kantor. Beberapa menit setelah kopaja jalan, naiklah empat orang remaja, satu orang perempuan, tiga laki-laki. Pakaian ala anak punk, hitam-hitam, tato, hiasan gelang paku dan flanel kotak-kotak merah menyelingi. “Kami hadir untuk menghibur anda, anda belum sarapan, kami juga belum sarapan, seribu-dua ribu tidak akan membuat anda miskin dan tidak akan membuat kami kaya!!!” begitu teriak ‘pemimpin’ kelompok ini. Lalu mereka menyanyi sebuah lagu singkat… mengenai bagaimana mereka benci kalau cinta di pur setengah. Si perempuan cilik terdorong seorang penumpang yang baru naik, dengan keras dia berkomentar “ampun deh, Gede Banget tuh Pantat”. Lalu dikeluarkan sebuah kantong plastik untuk mengumpulkan uang dari para penumpang. Yang bener nih…

Parade pagi ini terasa lebih jujur di banding parade atraksi yang disiarkan semalam di setiap stasiun TV Indonesia – acara (niatnya) megah untuk memperingati hari kebangkitan nasional kemarin. Jujur juga bahwa walaupun berbagai bentuk negatif terpampang di hadapan ku tadi, ada juga sikap baik yang muncul sekali waktu. Seperti, ketika seorang Ibu naik ke busway membawa beberapa anaknya, dua orang pria baik hati langsung berdiri memberi tempat. Di sebelah ku juga seorang Ibu dengan sabar dan rinci menjelaskan rute ke arah Pasar Minggu kepada pasangan muda yang baru mencoba naik busway.

Inilah pagiku, refleksi harian dalam waktu 45 menit…

Kategori: kontemplasi · sehari-hari

Potong Rambut

Mei 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Suatu siang gue kabur pas jam makan siang untuk potong rambut… memanfaatkan lokasi kantor di bilangan Tebet yang banjir salon kiri kanannya

Setelah menunggu beberapa lama (tau nih mba… pada belum siap pemotongnya, tau pada kemana- gitu kata mba-mba receptionist). Setelah akhirnya rambut selesai dicuci, dateng seorang pemotong yang lumayan meyakinkan tampilannya. Cewek, rambut ditata messy (apa emang males ngurus rambut sendiri ya?), turtleneck hitam, pake kacamata.

Gue: ” Mba, potongnya jangan ditipisin ya, rambut saya udah tipis, poni saya aja yang ditipisin. potongan sekarang ketebelan, saya nggak suka”

Si Mba: “oooh, gitu ya? ok”

dia mulai kerjanya… snip, snap, snip – kress, kress, kress.  Hati mulai deg-deg pas gue liat dia agak jelalatan sambil kerja. liat kanan, liat kiri, perhatiin sebelahnya, belakangnya. 

dan…

hati gue bener…

pas selesai . . .

si Mba: “dah, gini kan Mba? Tebel poninya, tipis belakangnya?”

Gue: “?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?????!!!!!!!!”

Kategori: hahaha · sehari-hari
Ditandai: , ,

Breath Your Name

Mei 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

It’s every day
I’m in this place
I feel this way
I feel the same
It’s every day
I’m in this place
I feel this way
I feel the same

Is it all inside my head
Is it all inside my head
I’ll view the list
And take my pick
I view my faith
And make a choice
‘Cause it’s nobody else’s but mine

But you are in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name

So many days within this race
I need the truth
I need some grace
I need the path
To find my place
I need some truth
I need some grace
The part of you
That’s part of me
We’ll never die
We’ll never leave
And it’s nobody else’s but mine

You are in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name

You’ll view the list
And take your pick
You’ll view my faith
And make a choice
‘Cause it’s nobody else’s but yours

And you’re in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name

‘Cause you’re in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name
I can only breathe your name
I can only breathe your name

Song by: Six pence none the richer

Kategori: spirit
Ditandai: ,

Bakso enak

Mei 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tadi baru aja makan bakso enak di deket kantor… ada bakso tomat-nya lho. i.e. tomat di-isi Bakso.

Tapi jadi tersadar deh. Bakso Mama-ku jauh lebih enak. Maklum, bakso rumahan… kualitas terjamin, didominasi daging, sekitar 90% deh…  Mama dah mikir, nanti pas Papa pensiun mau jualan bakso aja.

Hmmm, menarik… kayaknya Papa mendukung malah diminta untuk serius sekalian, biar nggak sia-sia. Aku setuju sih… klo nggak, nanti cuma idup sebentar trus ilang. Kalok emang niatnya pengen buat tambahan pemasukan, mesti serius.

Lucu juga… bakso rumahan, bakso ala Mama, bakso sehat… (kayaknya yang terakhir dah dipakai sama restoran lain deh…)

Ini resep dapet dari sahabat keluarga di Jogja. Kenapa dia nggak jualan ya?  Mungkin perlu di ingetin untuk minta ijin sama si empunya resep… karena jitu banget rasanya.

Kategori: sehari-hari
Ditandai: ,