Kenyataan yang tidak enak = an inconvinient truth (terjemahan gaya bebas ala Tya red.).
Dua hari kemarin adalah dua hari dipenuhi peringatan yang keren menurut gue.
21 April: Hari Kartini, seorang nasionalis… pemikirannya begitu sesuai dengan keadaan saat ini aku sampai kagum… seorang wanita di zaman dimana kakinya terpasung adat budaya, otaknya bisa begitu brilian, melambung begitu tinggi dengan begitu tajamnya.
22 April: Earth day. Hari Bumi. hari dimana (mestinya) kita memperingati dan memperbaharui niat untuk menemukan solusi masalah-masalah lingkungan kita. Masalah-masalah Bumi.
Apa hubungannya dua hari itu? Satu hari memperingati wanita nasionalis yang hidup lebih dari 100 tahun yang lalu, satunya lagi adalah hari yang diciptakan berdasarkan timbulnya kesadaran bersama akan pentingnya masalah lingkungan.
Gimana ya? sebagai orang Indonesia, rasanya berhubungan deh dua hari itu.
Tau dong kata-kata: “Think Globaly act localy”?
Ya… itu deh yang membuat dua hari itu nyambung buat gue. Gimana caranya? mmmm, gini deh… pemikiran ini muncul gara-gara nonton ‘kuliah’-nya Pak Al Gore semalem – tajuk: An Incovenient Truth. Tau dong film itu…
Di situ aku liat, seorang warga negara, sebegitu cinta-nya dengan negaranya sendiri, sampai berani maju terus dalam menyatakan kenyataan yang sering membuat orang tidak nyaman mendengarnya. Dia berani (dan jago) menampilkan fakta demi fakta bahwa negara yang dicintainya itu adalah salah satu kontributor terbesar dari Krisis Iklim saat ini. Tanpa terlalu berlama-lama menyalahkan orang (well… jujurnya Bush Jr. beberapa kali terima selentikan disini) Pak Gore menampilkan apa issue utama dalam Krisis Iklim ini. Dia menyampaikan secara komprehansif segala hal yang telah ia pelajari dalam waktu sekian puluh tahun hidupnya. Dia mengajak, mengetuk, membujuk penonton untuk turut memikirkan masalah bersama, turut menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.
Permasalahan yang dihadapi memang besar, tapi ia mencoba mengingatkan rekan sewarga negaranya, bahwa mereka semua memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Ia mengingatkan segala hal hebat yang mungkin dilakukan manusia di seluruh dunia, terutama negaranya, pada saat kesadaran muncul dan tindakan yang tepat diambil.
Disini kita balik lagi ke hubungan antara dua hari di Indonesia ini. Tergugah rasanya untuk berpikir… apa posisi kita disini? Jujur aja, pesimis mood gue kalau dibawa ke kondisi negara ini. Hati nurani sudah nggak keliatan lagi di posisi-posisi strategis. Serasa melihat kebutaan hati mengiringi kehancuran yang akan tiba.
lalu sekelebat kata-kata mengetuk hati, kurang lebih seperti ini:
“menakjubkan bagaimana manusia dapat berada dalam kondisi penuh penyangkalan lalu langsung masuk ke kondisi penuh keputus asa-an… tanpa berhenti untuk melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan”
Jadi… belum boleh lah putus asa. Orang gue belum ngapa-ngapain. Gitu kira-kira rasanya di hati.
Kesadaran yang muncul karena rentetan pemikiran: Pendidikan. Ngapain sih Pak Al Gore ini rela melakukan ‘kuliah’ ini beribu kali? satu kota demi satu kota didatangi? Demi mendidik secara langsung rekan sewarga negaranya.
Apa yang ditangisi Ibu Kartini dulu dalam ratusan surat-surat berisi amarah dan kerinduannya? Pendidikan bagi bangsanya.
Ada garis merah disini. Ternyata bangsaku juga punya kehebatan terpendam… kesadaran akan dibutuhkannya pendidikan yang sesungguhnya. bukan sekedar menghafal, tapi mengerti dan menimbulkan kesadaran.
Dulu, seratus tahun yang lalu, seorang wanita menyadari bangsanya dibodohi. Ternyata dia tidak sendiri di masa itu, pergerakan kesadaran pendidikan itu, kalau diperhatikan, seperti bersambutan dimana-mana.. dulu ketika, jangankan internet, telpon pun belum ada. Artinya apa? artinya kesadaran seperti yang gue alami ini, pasti nggak sendirian. Pasti disekitar gue juga banyak yang mengalami ini.
Apa yang akan gue lakukan? yang jelas gue akan lebih rajin memperhatikan apa yang gue bisa lakukan secara pribadi untuk masalah ini. Jelas pendidik bukan bagian gue sekarang, mendidik diri sendiri pun belum selesai.
Sementara waktu gue berdoa, semoga semua yang tergugah kesadarannya, bisa terus kuat menjalankan niatnya untuk memperbaiki keadaan. Betapapun pesimis dan gelap kadang kondisi ini terlihat.
Kita hidup di zaman konsekuensi, bukan waktunya lagi kita menunda-nunda tindakan menghadapi permasalahan yang ada.*
*)loosely based on Sir Wiston Churchill’s quote, karena gue gak inget bener tepatnya apa
PS: post ini copy paste abis post gue di FS. Gue baca lagi, dan sepertinya memang sudah pas, gak kebayang mau bahas dari sisi mana lagi…
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.