Harinadiputri

blog redemption – gara-gara internet mati 3 hari…

April 10, 2008 · & Komentar

Sekarang hari Kamis, 10 April 08… senin kemarin internet kantor mati… jadilah gue meracau tanpa tersampaikan di word gue.

Tadi pagi… voila… inet nyala lagi! jadi… berikut copy paste petualangan beberapa hari ini :)

Senin, 7 April 08

Hari ini rasanya bagus banget deh.

Senyum ini gak ilang-ilang dari muka, padahal sekeliling gue lagi suntuk. Orang-orang lagi dikejar deadline yang menyebalkan (karena yang koordinasi deadline ini adalah orang yang menyebalkaaaan banget, si pemarah tanpa substansi, itu panggilan sayang gue buat dia XD). Biasanya aura muram durja kayak gini bikin gue super bete, tapi… aura ku bisa dibilang gak kesentuh hari ini.

Semua ini karena gue lagi super seneng. Dari kemarin diperlakukan kayak ratu sama suami. Dianter belanja baju hamil, di turutin kepengenan maem Popeye’s (mixed seafood platter!!! So yummy – hmmm, gue mudah dibuat seneng…), dianter ke kantor tadi pagi terus ditambah kabar baik yang bikin tambah senyum: kuliah suami hari ini batal! Weh, bukan pelajar yang baik dan benar nih, ah… ya sudah lah, emang bukan gue yang pelajar.

Berapa lama rasa ini tahan? Berapa lama sebelum gue jatuh dan kejedut kepalanya? Apa rasa ini nyata, atau cuma euphoria belaka? Hari ini gue gak pengen ambil pusing, gue nikmati aja deh… ini hari bagus gue, terlalu dipikir bakal bikin cepet luntur aura ini.

Lanjutan di sore harinya.

Ternyata aura gue terpengaruh juga. Gara-gara si pemarah tanpa substansi itu coba-coba lagi jadiin gue gentong muntahan frustasi dia. Eh, Sorry-dori-mori rasa stroberi, siapa sudi. Terjadilah lomba tinggi-tinggian suara lewat telpon. Gue hampir berkata: elo idiot apa bego sih?!?! Untung adat ketimuran gue masih mengingatkan gue untuk tidak turun ke level si pemarah tanpa substansi ini.

Tapi… si suami ada di rumah pas aku pulang nanti. Huah, auraku kembali!

Selasa, 8 April 2008 *siang*

Ada ular putih berkeliaran, bentuknya seperti siluman bijak. Tapi bisanya kuat tanpa disangka.

Bisa yang di sebar bukan bisa yang membiru, membusuk dan segera mematikan, bukan bisa yang langsung terlihat di permukaan kulit. Bisanya beracun bukan kepalang, tapi tanpa terlihat jangkitannya. Datangnya bukan dari gigitan, tapi dari suaranya yang merdu dan kadang menghentak mengintimidasi. Racunnya menyebar diam-diam… menebar keraguan dan kekhawatiran awalnya… sampai kekacauan datang pada akhirnya.

Dari telinga turun ke otak lalu naik ke hati…

Penawar? Sebenarnya sudah pengetahuan umum penangkal ini, tapi belum ada yang berhasil membuat sebagai obat penawar yang bisa dibeli untuk umum tuh…

Manusia yang terkena bisa ini, harus melatih diri, supaya suara si ular ini tidak menyebar. Cukup sampai telinga saja hai bisa!! Begitu manusia harus menegaskan.

Penangkal? Ini sedikit lebih rumit… biarkan bisa berjalan sampai otak, lalu otot-otot otak akan mengolah diri supaya kuat menangkal serangan-serangan berikut yang mungkin datang. Proses ini tidak boleh di pandang remeh. Hati harus cukup kuat untuk menahan kemampuan otak mengolah si bisa, kalau tidak, bisa turut kacau si hati… Tapi kalau berhasil, kita nggak perlu khawatir sama si ular lagi, penangkal sudah siap dipakai dalam diri.

Jadi hati-hati ya, ular putih ini berkeliaran di sekitarku, mungkin juga disekitarmu… jangan biarkan hati lemah dan lengah!

Kategori: kontemplasi · sehari-hari
Ditandai: , ,