Harinadiputri

moment of insecurity

Desember 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

I glance up from my meal
Hun, see what I see
Legs for miles

Hair in glistening piles
and hips so small i must get her to reveal
just how it is she keeps it real

Shirt that drapes just right
Pants fit without a fight
Heels oh so sweet
and not to mention that casually flung bag
that swings gently to her beat

Now as i look down i see
just what it is that disturbs me so
i pile on any that fit
and then run on the go

Next there is that sweet and sassy fragrance
gushing nothing less than extravagance
while the morning fumes of monoxide
still clings to my daily hide

Humphh, i harrumphed
i guess i’m a tad scerred
a bit miffed
a lot insecure
must trudge back in my brain
dig up something pure
it is the only cure for such a trivial but torturous malady i’m sure.

-written after an unsetlling encounter with one of the beautiful ones during lunch hour-

→ Tinggalkan KomentarKategori: English · ha ha ha · sehari-hari
Ditandai: , ,

Mothers Day in Indonesia

Desember 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Have you told her today?
Have you told her just how much you love her?
Did you let her know, that you appreciate every little thing she has provided for you?
Have you reminded her of her worth today?

Have you ever wondered, how many hours she kept her life on hold
To make way for yours to unfold?
Have you realized, that she would never ever take those hours back even if the chance were given?
That she has willingly given those minutes, those hours, those days, those years… out of the infinite love she holds for you?

Have you told your mother how much you love her?
Not just because it’s mothers day today in Indonesia, but simply because you do.

→ Tinggalkan KomentarKategori: English · kontemplasi
Ditandai: , ,

Twilight… bet you never heard that one before (ha-ha)

Desember 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

What can I say. I ain’t impervious to the Twilight Edward Cullen effect. 

Okay, so Twilight turns out to be highly entertaining for me. Enough to keep me re-reading up till now.  I am strongly drawn to the passion that the author has managed to convey through simple yet concise words. I feel it. I feel the love between the two main characters.

I know, I know, Edward is overly fussy, Bella.. well.. Bella could cut back on the Edward oogle-ing descriptions a tad, he’s hot – we get it. The sub-plot sometimes got me rolling my eyes more times than Edward in all four books combined. All that aside though, this story has got a lot of passion. It drips of angst and despair and hope and despair and back to hope again. I really felt it when Bella experiences the emptiness of abandonment – I can almost taste the crazy. I really felt it when Edward begins to realize his feelings for Bella (read Midnight Sun) – I can almost feel his fear of discovering love.

As Jacob Black might say: “Sure, sure – it has flaws”. It’s no Harry Potter, but that doesn’t mean its not entertaining. What it lacks in intricate story lines it makes up through its exploration of Edward and Bella’s passionate relationship. I’m glad I found such an intense romance like this one. It reminded me of how having a crush feels like – I mean, was anybody able to stop them self from crushing a little on the sweet and sorry vampire that is Edward Cullen? Other than my beloved Fug Girls, I have yet to find one.

All in all, the twilight series provided me really good entertainment, the kind that I can kick back and relax with at the end of the day… I love it.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Heartbeat

Desember 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Have you listened to your heart lately?
Is it beating slowly?
Is it beating fast?
Does it falter ever so slightly at a certain sight, sound or thought?

Is it beating to its own regular beat, for just a bit too long?
Do you miss the falters, the racing, the skips?

Have you listened to your heart lately?
Does it skip, falter and fumble at a certain sight, sound, thought?
If it does, then cherish it, savor it, enjoy it…
For within those moments, the heart is soaring, flying on its own wings, weaving through the days, up up in the clouds.

Listen to your heart…

→ Tinggalkan KomentarKategori: English · kontemplasi
Ditandai:

Pada saat… transportasi memadai pun belum kesampaian

September 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nggak kurang dari 10 menit mobil kita berhenti di pintu rel Stasiun Senen tadi pagi. Jumlah kereta yang lewat: 2 saja; satu baru masuk ke stasiun, satu lagi berangkat dari stasiun. Jumlah gerbong tiap rangkaian yang lewat juga tidak begitu banyak – nggak sampai lebih dari satu menit dibutuhkan untuk lewat. Boros ya? semestinya cukup 5 menit saja pintu rel ditutup, tapi kenyataannya 5 menit extra hilang. Mulailah, seperti biasa, aku dan Papa ngobrol tentang gimana hal kecil seperti ini sebenernya nggak perlu terjadi. Bahwa efisiensi itu sebenernya nggak sulit, hanya saja kemauan untuk melakukannya ndak ada.

Jadi mikir: ini refleksi gamblang perlakuan terhadap masyarakat umum. Habis, kalau dipikir, siapa sih pemakai utama kereta? Pastinya masyarakat menengah kebawah kan? masyarakat umum di Indonesia di dominasi masyarakat kelas menengah kebawah. Nggak salah dong, kalau ambil kesimpulan: Perlakuan terhadap angkutan umum mencerminkan perlakuan terhadap masyarakat umum. Karena, angkutan umum adalah fasilitas yang disediakan untuk mempermudah masyarakat umum mencapai lokasi tujuan mereka.

Jadi kepikiran juga soal transjakarta – angkutan umum yang paling dekat di hati, karena paling sering gue pake… hehehe. Ummm, gimana ya; jujurnya gue dah lumayan seneng sih sama transjak – karena rute pulang pergi kantor gue lumayan enak, ngelawan arus terus. Berangkat ke arah Kampung Melayu, pulang ke arah Senen, kebalikan arus rame. Belum lagi sejak status gue berubah jadi Ibu hamil, secara otomatis gue di-upgrade jadi VIP passanger, dimana ngantri itu nggak penting, karena perusahaan transjak nggak mau resiko ada tuntutan secara hukum dari ibu hamil yang merasa kegencet di jalur antrian umum. Tapi, kalau gue buka mata bener-bener… gimana kalau gue jalur PP nya kebalikan ini? gimana pas gue belum hamil dulu. Jadi ‘ngeh’, sebenernya transjak pun masih banyak banget kekurangannya. Sebut aja, janji kehadiran bus tiap lima menit di tiap halte yang hampir nggak pernah terpenuhi, kondisi halte yang tidak mencukupi jumlah calon penumpang (pernah liat halte central senen yang di tengah-tengah jalan pas lagi penuh nggak? yang sebaris doang tuh?), belum lagi kelakuan petugas transjak yang bervariasi antara berlebihan dalam mengatur penumpang sampai ke arah nggak perduli ngeliat para penyelak antrian beraksi.

Intinya, gue pun menikmati transjakarta karena gue beruntung, bukan karena transjak memberikan pelayanan yang super keren buat pelanggannya. Kalok salah satu faktor keberuntungan gue ilang, transjakarta juga nggak mungkin senyaman ini buat gue.

Jadi apapun bentuknya, gue rasa kebutuhan masyarakat umum itu masih belum ada yang tanggepin secara serius. Lha wong kebutuhan dasar seperti transportasi yang terjangkau dan memadai aja belum terpenuhi – sama perusahaan pemerintah maupun swasta (transjak swasta toh? no matter how or who started it).

Duh, kapan ya orang-orang nggak perlu mikir lagi masalah desek-desekan, rebutan antrian, was-was jadwal kedatangan angkutan yang nggak pasti… nggak perlu pusing mikir harga bensin yang melonjak tinggi, padahal jarak rumah ke tempat gawe jauh bgt, nggak perlu stress ngadepin macet…nggak perlu maksa berangkat pagi-pagiiii banget demi sekedar menghindar dari padatnya angkutan umum… nggak perlu bertaruh nyawa dengan cara naik motor dan bersaing secara ugal2an di jalan raya. Kapan ya masyarakat diperlakukan secara hormat dan disediakan fasilitas transportasi umum yang memadai. Nggak perlu mewah koq, sekedar memadai… Memadai untuk menjaga suasana hati pelanggannya mulai dari berangkat, hingga kembali lagi ke rumah – ke keluarganya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pada saat... · kontemplasi · sehari-hari
Ditandai: , ,

Weird thoughts

September 1, 2008 · & Komentar

I see you, I see what you do.

But I don’t get you, don’t get what you do.

The dark clouds of my heart, thank God I’m far from it these days, really?

Yes, well… it rumbles softly, just over the horizon a bit… but doesn’t really get in the way of my clear views anymore like the days of yester-years.

But still, when I see you, and see what you do, I wonder… what is it you hope to achieve by doing what you do?

I should move on, ignore you, and take in the breath of fresh air, the rumblings of the clouds, and the movement of the tumultuous ocean in my heart… Cause thats my journey, I have been through so much. I deal with my weird thoughts much better these days. hahaha…

→ 2 CommentsKategori: English · kontemplasi
Ditandai:

First day of Fasting

September 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

For the first time, I am breaking my own promise in this blog. I’m doing an entry in English. haha… well, I lasted this long, but it’s just not practical. I can not maintain two blogs. This one is barely updated, the English sister to this site fares just a little bit poorer – okay, a LOT poorer… I think there is only 3 posts there so far. Might as well delete it :P .

But i’ll give you this though – I’ll do my best to not mix both language in a post.

Okay, back to topic – first day of fasting. Pregnant me, fasting. I was a bit weak on the knees this morning – 8 a.m… imagine that – already feeling weak at 8?!?! The prospect of lasting until 6 p.m. tonight was so daunting. I was ready to brew up some tea to rid my hunger pang.

But then as the day gave way, I realized that I was ay okay… I think I might last the whole day :) .

My doctor said it was okay when I had my check up last Saturday – and it seems to be going well so far…  I hope I make it :D

one good thing comes out of it – free lunch hour gives me time to doodle around with the name game. *sigh* still have not settled on one yet…

→ Tinggalkan KomentarKategori: English · sehari-hari
Ditandai:

Sewot

Agustus 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hmmm, ada bentuk baru nih muncul di hadapan ku.

Marah karena tidak terpenuhi maunya. Karena merasa terlewati kepentingannya. Atau terlewati waktu untuk membuktikan apa pentingnya.

Aneh. kalau memang penting, apa mesti dibuktikan segala? bukannya akan terasa dengan sendirinya?

Lelah. lelah menjadi sasaran ketidak relaan hati, ketidak ikhlasan rasa, ego yang tersinggung.

Haha, itu saja yang keluar dari mulutku, melihat wajah mutung si bentuk baru. Aku tak bisa -haha- dengan puas dan asal juga sih. nanti tambah mutung lagi. jadi lah aku -haha- dalam hati. hihihi…

→ Tinggalkan KomentarKategori: kontemplasi · sehari-hari
Ditandai: , ,

Pada saat… idealisme ditodong perutnya

Agustus 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kuat sekali idealisme seseorang yang berarti bagiku. Membatu dalam hatinya semangat mengabdi.

Bukan karena disuruh begitu, bukan karena pengen gaya sebagai pahlawan yang nantinya punya nama. Hanya sekedar mengikuti kata nurani… sudah mendarah daging menjadi insting.

Halangan demi halangan menghadang – bagai tembok yang menjulang di hadapan muka. Semua terlewat satu persatu. Namun apa daya, cobaan tiada henti, ketika semangat mengabdi ditunggangi semena-mena, terhenti juga semangat menggebu itu.

Untuk apa aku berpacu, mengorbankan jiwa raga ku… padahal dalam waktu yang sama, keluargaku menjerit mengencangkan perut… karena hak-ku ditahan tanpa penjelasan.

Apa yang terjadi pada saat… semangat dan niat baik dibalas perlakuan semena-mena? idealisme ditodong perutnya?

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pada saat... · kontemplasi
Ditandai: ,

Pelajaran jadi Ibu

Agustus 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Aku pikir aku bakal jadi pengajar bagi anak-ku.

Ternyata sejak sebelum lahir-pun anak-ku sudah banyak mengajari aku.

Aku pikir aku bakal menjadi pembimbing bagi anak-ku,

Ternyata kehadiran anak-ku membimbing aku supaya mau lebih maju.

Aku sangka aku yang menopang keberadaan anak-ku.

Ternyata keberadaan anak-ku juga turut mendefinisikan aku lebih jauh lagi.

Aih, kecilnya aku – tanpa tahu apa-apa aku berprasangka, hanya karena aku sudah punya pengalaman 27 tahun lebih awal aku menduga… tapi aku tau, semua itu tidak berlaku.

Aku lebih terbuka menerima, segala perubahan yang ajaib ini. Bagaimana rasanya tiap inci pribadiku dipertajam, di taruh dibawah kaca pembesar untuk aku lihat sendiri.

Aku dihempaskan melihat kekuranganku sendiri, aku dilambungkan pada saat mengerti kelebihanku. Aku dituntut untuk menemukan keseimbangan diantara keduanya… karena dalam keseimbangan itulah aku bisa menggandeng anak-ku dalam keseharian kami.

keseimbangan from www.stonebalancing.com

keseimbangan from www.stonebalancing.com

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized